Minggu, 26 Januari 2014

Isi hati :)

aku mencintaimu.. Tidak. Aku sangat mencintaimu. Aku berusaha memberitahumu Berusaha menunjukkan betapa aku sungguh mencintaimu Aku mencari setiap celah pada pagi hari untuk menatap wajahmu Walaupun jarak tidak mengizinkanku menemuimu. Walau waktu selalu menghimpit tubuhku untuk tak berusaha mencintaimu lagi Aku tak pernah merasa lelah mencintaimu Melihat senyummu dalam mata rabunku sudah cukup memperjelas mataku untuk mengetahui bahwa kau ada dihadapanku Aku hanya memandangi gambarmu. Kau tersenyum entah kepada siapa, kepadaku? tidak. Begitu banyak orang yang kau cintai Sehingga aku mungkin tak kau kenali, aku hanya pecintamu yang bernomor urut ribuan atau mungkin milyaran? semua orang bilang mencintaimu hanya mimpi dalam tidurku, saat aku terbangun maka aku tak akan mencintaimu Tapi kenapa aku tak berhenti mencintaimu saat aku membuka kelopak mataku dipagi hari, Apakah aku masih bermimpi? Kenapa kau terasa begitu dekat? Bahkan tak sekalipun aku dapat menatap matamu, Tak sekalipun menyentuh jemarimu. Aku ingin melampiaskan seluruh rasa cintaku kepadamu dengan semua yang aku bisa. Tapi aku tahu kau tak ingin aku terlalu berlebihan kepadamu. Hanya saja dadaku terlalu sesak untuk menahan rasa cinta yang terus mengalir dengan deras setiap detik aku mengingat bisik dan senyummu. Bagaimana aku mengeluarkan semuanya? Bahkan bumi ini tak sanggup menahan rasa cintaku.. Aku hanya ingin mencintaimu dengan caraku.. Membuatmu mengenaliku dengan caraku.. Sehingga kau tahu bahwa diantara milyaran orang, akulah yang mencintamu dengan apa adanya dirimu Tanpa kau harus mencari, temuilah aku Cintailah aku sebesar aku mencintaimu. Dan ketahuilah bahwa hatiku tulus menerimamu dan menunggumu walaupun aku harus terbuang lebih dulu..

Jumat, 10 Januari 2014

Ijinkan aku

Ijinkan AKu hanya sedetik menatapmu Meski hati ini tak seharusnya menyapa harapan.. harapan indah untuk bersamamu namun ijinkan aku menatapmu, meski untuk yang terakhir kalinya.. Ijinkan aku bertanya kepada Tuhan kenapa cinta ini harus hadir dan tertaut pada dirimu ? inikah ujian hati? ataukah sekedar lelucon tuhan untukku? airmata ini menjadi kenangan terakhir tentangmu satu - satunya hal yang akan tetap menemaniku saat sepi saat sendiri, saat kau tak lagi disisi, saat kau tak bisa aku miliki,saat kau entah dimana terendap laraku, laksana luka yang tergores dari pisau berkarat.. kian lama kan kian bernanah aku takut dengan rinduku tapi selalu ku nikmati rindu ini aku cemas dengan kecemasanku tapi aku teramat menghayati cinta Aku tau takkan ada kebersamaan abadi untuk kita tapi ijinkan satu detik saja untuk menatapmu... Untuk mendekapmu.. untuk sekedar menyakinkanku bahwa engkau bukanlah untukku.. Dan bukan untuk siapa siapa..

bisakah kau bayangkan rasanya jadi aku



Kamu pernah menjadi bagian hari-hariku. Setiap malam, sebelum tidur, kuhabiskan beberapa menit untuk membaca pesan singkatmu. Tawa kecilmu, kecupan berbentuk tulisan, dan canda kita selalu membuatku tersenyum diam-diam. Perasaan ini sangat dalam, sehingga aku memilih untuk memendam.

Jatuh cinta terjadi karena proses yang cukup panjang, itulah proses yang seharusnya aku lewati secara alamiah dan manusiawi. Proses yang panjang itu ternyata tak terjadi, pertama kali melihatmu; aku tahu suatu saat nanti kita bisa berada di status yang lebih spesial. Aku terlalu penasaran ketika mengetahui kehadiranmu mulai mengisi kekosongan hatiku. Kebahagiaanku mulai hadir ketika kamu menyapaku lebih dulu dalam pesan singkat. Semua begitu bahagia.... dulu.

Aku sudah berharap lebih. Kugantungkan harapanku padamu. Kuberikan sepenuhnya perhatianku untukmu. Sayangnya, semua hal itu seakan tak kaugubris. Kamu di sampingku, tapi getaran yang kuciptakan seakan tak benar-benar kaurasakan. Kamu berada di dekatku, namun segala perhatianku seperti menguap tak berbekas. Apakah kamu benar tidak memikirkan aku? Bukankah kata teman-temanmu, kamu adalah perenung yang seringkali menangis ketika memikirkan sesuatu yang begitu dalam? Temanmu bilang, kamu melankolis, senang memendam, dan enggan bertindak banyak. Kamu lebih senang menunggu. Benarkah kamu memang menunggu? Apalagi yang kautunggu jika kausudah tahu bahwa aku mencintaimu?

Tuan, tak mungkin kautak tahu ada perasaan aneh di dadaku. Kekasihku yang belum sempat kumiliki, tak mungkin kautak memahami perjuangan yang kulakukan untukmu. Kamu ingin tahu rasanya seperti aku? Dari awal, ketika kita pertama kali berkenalan, aku hanya ingin melihatmu bahagia. Senyummu adalah salah satu keteduhan yang paling ingin kulihat setiap hari. Dulu, aku berharap bisa menjadi salah satu sebab kautersenyum setiap hari, tapi ternyata harapku terlalu tinggi.

Semua telah berakhir. Tanpa ucapan pisah. Tanpa lambaian tangan. Tanpa kaujujur mengenai perasaanmu. Perjuanganku terhenti karena aku merasa tak pantas lagi berada di sisimu. Sudah ada seseorang yang baru, yang nampaknya jauh lebih baik dan sempurna daripada aku. Tentu saja, jika dia tak sempurna—kautak akan memilih dia menjadi satu-satunya bagimu.

Setelah tahu semua itu, apakah kamu pernah menilik sedikit saja perasaanku? Ini semua terasa aneh bagiku. Kita yang dulu sempat dekat, walaupun tak punya status apa-apa, meskipun berada dalam ketidakjelasan, tiba-tiba menjauh tanpa sebab. Aku yang terbiasa dengan sapaanmu di pesan singkat harus (terpaksa) ikhlas karena akhirnya kamu sibuk dengan kekasihmu. Aku berusaha memahami itu. Setiap hari. Setiap waktu. Aku berusaha meyakini diriku bahwa semua sudah berakhir dan aku tak boleh lagi berharap terlalu jauh.

Tuan, jika aku bisa langsung meminta pada Tuhan, aku tak ingin perkenalan kita terjadi. Aku tak ingin mendengar suaramu ketika menyebutkan nama. Aku tak ingin membaca pesan singkatmu yang lugu tapi manis. Sungguh, aku tak ingin segala hal manis itu terjadi jika pada akhirnya kamu menghempaskan aku sekeji ini.

Kalau kauingin tahu bagaimana perasaanku, seluruh kosakata dalam miliyaran bahasa tak mampu mendeskripsikan. Perasaan bukanlah susunan kata dan kalimat yang bisa dijelaskan dengan definisi dan arti. Perasaan adalah ruang paling dalam yang tak bisa tersentuh hanya dengan perkatan dan bualan. Aku lelah. Itulah perasaanku. Sudahkah kaupaham? Belum. Tentu saja. Apa pedulimu padaku? Aku tak pernah ada dalam matamu, aku selalu tak punya tempat dalam hatimu.

Setiap hari, setiap waktu, setiap aku melihatmu dengannya; aku selalu berusaha menganggap semua baik-baik saja. Semua akan berakhir seiring berjalannya waktu. Aku membayangkan perasaanku yang suatu saat nanti pasti akan hilang, aku memimpikan lukaku akan segera kering, dan tak ada lagi hal-hal penyebab aku menangis setiap malam. Namun.... sampai kapan aku harus terus mencoba?

Sementara ini saja, aku tak kuat melihatmu menggenggam jemarinya. Sulit bagiku menerima kenyataan bahwa kamu yang begitu kucintai ternyata malah memilih pergi bersama yang lain. Tak mudah meyakinkan diriku sendiri untuk segera melupakanmu kemudian mencari pengganti.

Seandainya kamu bisa membaca perasaanku dan kamu bisa mengetahui isi otakku, mungkin hatimu yang beku akan segera mencair. Aku tak tahu apa salahku sehingga kita yang baru saja kenal, baru saja mencicipi cinta, tiba-tiba terhempas dari dunia mimpi ke dunia nyata. Tak penasarankah kamu pada nasib yang membiarkan kita kedinginan seorang diri tanpa teman dan kekasih?

Aku menulis ini ketika mataku tak kuat lagi menangis. Aku menulis ini ketika mulutku tak mampu lagi berkeluh. Aku mengingatmu sebagai sosok yang pernah hadir, meskipun tak pernah benar-benar tinggal. Seandainya kautahu perasaanku dan bisa membaca keajaiban dalam perjuanganku, mungkin kamu akan berbalik arah—memilihku sebagai tujuan. Tapi, aku hanya persinggahan, tempatmu meletakan segala kecemasan, lalu pergi tanpa janji untuk pulang.

Semoga kautahu, aku berjuang, setiap hari untuk melupakanmu. Aku memaksa diriku agar membencimu, setiap hari, ketika kulihat kamu bersama kekasih barumu. Aku berusaha keras, setiap hari, menerima kenyataan yang begitu kelam.

Bisakah kaubayangkan rasanya jadi orang yang setiap hari terluka, hanya karena ia tak tahu bagaimana perasaan orang yang mencintainya? Bisakah kaubayangkan rasanya jadi aku yang setiap hari harus melihatmu dengannya?

Bisakah kaubayangkan rasanya jadi seseorang yang setiap hari menahan tangisnya agar tetap terlihat baik-baik saja?

Kamu tak bisa. Tentu saja. Kamu tidak perasa

 http://dwitasarii.blogspot.com/2013/05/bisakah-kaubayangkan-rasanya-jadi-aku.html

Minggu, 05 Januari 2014

Untuk mu !

Dan lagii entah ini catatan yg keberapa yg kubuat untuk kamu yaa kamu 😅

Taukah kamu ? Aku menikmati setiap keromantisan yg kau ciptakan,menikmati setiap kenyamanan yg kau berikan dan akupun menikmati semuanya ! Ya semuanya hingga aku lupa cara nya untuk berhenti 😢
Bolehkah aku bertanya ? Taukah kamu sejak kapan aku menyukaimu ? Menyukai bola mata dan alis itu atau bahkan senyum mu ?
Tahun itu dua ribu sebelas tepat dua tahun lalu semuanya berawal, pembicaraan yg terlihat sepele ahh aku menikmatinya sungguh ! Mau kah kau mengulang semuanya ? Pembicaraan sepele di tengah malam, perhatian kecil itu, bisakah kau berkata iya untuk semua pertanyaan itu ?
Kini aku atau bahkan kita merasakan hal yang sama; cinta, betapa mirisnya melihat kita yang entah harus di sebut apa saling memuji,saling berkata rindu,saling berkata cinta. Mungkin perasaan itu memang benar benar ada namun kita atau hanya aku yang tak sanggup memahami dan menerima kenyataan tentang semuanya ? 😞

Taukah kamu ? Aku benar benar memiliki rasa ini rasa yg trlalu lama kusimpan hingga akhirnya ku tak mengerti kejelasan nya,
Bolehkah aku bertanya satu atau bahkan beberapa hal ? Jika ya apakah kamu akan memberikan jawaban yang ku inginkan ?